Kebijakan Konten 3:1 dan Placement Content

Kebijakan Konten 3:1 dan Placement Content

Kebijakan Konten 3:1 dan Placement Content – Tiba-tiba kepikiran dengan bahasan soal konten 3:1 dan placement content. Selain catatan untuk diri sendiri, obrolan ini sebenarnya juga untuk teman-teman yang sedang ingin mengenal blog dan tertarik dengan salah satu kelebihannya, yaitu bisa menghasilkan uang. Bahkan sehari sebelum tulisan ini dibuat, masih ramai yang bahas soal itu.

Kebijakan Konten 3:1 dan Placement Content

Ya memang blog bisa jadi salah satu jalan untuk mendapatkan uang, bahkan masih sangat bisa menjadi sebuah pekerjaan yang menjanjikan. Tapi, bukan berarti bisa didapat seperti saat sedang ingin makan mi instan, karena makanan itu pun perlu proses sebelum akhirnya bisa dinikmati.

Ada banyak sudah tulisan yang mencoba untuk mengarahkan peminat blog baru agar tidak salah jalan, seperti membuat blog atau menulis konten di blognya hanya untuk mendapatkan uang saja. Tulisan seperti ini pun sebenarnya salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, juga agar blog ini tidak terkesan seperti “etalase toko” yang lebih banyak menampilkan sponsored post daripada tulisan yang original, sesuai tema utama blog.

Perkenalan dengan Placement Content

Ini bukan satu-satunya blog yang saya punya. Jauh sebelum personal blog ini dibuat, saya sudah menulis seputar teknologi di blog yang ini. Sedangkan blog yang satu lagi sengaja dibuat untuk iseng-iseng kalo ada yang tanya contoh tulisan yang pernah dibuat oleh Content Writer Pontianak.

Kalau boleh jujur, beberapa blog yang saya buat selain digunakan sebagai aset digital, juga dimanfaatkan untuk mendatangkan uang. Salah satunya lewat placement content atau yang juga disebut dengan sponsored post. Walaupun saya mengerti kalau untuk bisa mendapatkannya perlu waktu dan kondisi blog yang baik.

Tapi saat itu saya berpikir tidak apalah, terserah kapan-kapan dapat tawaran konten berbayar itu, ada banyak hal lain yang ingin saya tuju dengan membuat sebuah blog dan mengisinya dengan konten yang sesuai. Utamanya adalah untuk belajar dan mempraktekkan apa yang saya dapatkan dari hasil baca-baca atau teori-teori yang diperkenalkan oleh para mastah blogger yang bertebaran di luar sana.

April 2014 untuk pertama kalinya dapat tawaran job placement content. Itu beberapa bulan setelah mengganti domain blog pertama yang awalnya gratisan ke domain berbayar. Sama seperti waktu membuat dua blog lainnya yang terselip harapan bisa jadi mesin pencetak uang, ganti domain itu pun dilakukan dengan keyakinan kalau uang lebaran tahun depan bisa dipake untuk perpanjangan.

Daya Tarik Placement Content

Pertama kali dapat job ‘titip link’ itu rasanya senang sekali, karena satu blog post dengan panjang tulisan 300 kata dihargai Rp. 50.000 rupiah, yang tentu saja harus menyertakan satu link berstatus dofollow yang sudah disediakan. Nominal segitu waktu itu rasanya sudah besar sekali, apalagi bagi saya, blogger receh kemaren sore yang baru mengenal cara cepat dapat uang dari blog.

Semakin ditekuni, ternyata pekerjaan satu ini sangat menggiurkan. Pikirkan saja, ada orang yang mau bayar puluhan hingga ratusan ribu hanya untuk titip satu link di blog kita. Malah, jika punya keahlian ‘melobi’, bisa dapat bayaran lebih dengan kesepakatan tertentu. Hhhmmm…

Akhirnya pertanyaan itu terjawab juga setelah sekian lama menjalaninya. Sebuah link yang terlihat biasa saja itu, dan mungkin tidak pernah dibaca karena tinggal diklik, ada manfaat yang luar biasa bagi pemilik link. Salah satunya untuk menaikkan posisi web mereka di hasil pencarian.

Blog yang ‘cantik’ biasanya sangat disenangi untuk diajak kerja sama melakukan hal ini. Ukuran cantik di sini bukan hanya soal seberapa bagus desain blog yang dimiliki atau bagaimana tulisan yang ada dapat menarik perhatian pembaca. Meski masih ada yang begitu, rasanya sudah jarang ditemukan job sponsor konten yang mengharuskan blogger memberikan laporan berupa screenshot traffic. Biasanya hanya untuk kampanye tertentu.

Ukuran cantik yang digunakan umumnya adalah berapa nilai DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) yang dimiliki sebuah blog. Belakangan ada juga yang menambahkannya dengan jumlah visitor bulanan dan Moz Rank.

Kecanduan Placement Content

Bayaran yang menggiurkan dan postingan siap pakai jadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Hingga akhirnya secara pelan tapi pasti, isi blog sudah semakin tampak berbeda dengan tema utamanya. Walaupun masih ada blogger yang gigih mempertahankan itu dan menolak postingan berbayar yang ditujukan untuknya.

Di sinilah para blogger, terutama blogger pemula diuji niat dan keseriusannya dalam hal blogging. Mereka yang serius ngeblog, akan terus bertahan meski godaan seperti bayaran yang cukup tinggi untuk sebuah link yang dititpkan lewat postingan selalu berdatangan.

Sementara itu, tidak sedikit pula blogger pengejar uang (termasuk saya) yang tanpa sadar merelakan blognya jadi seperti “etalase toko” yang lebih banyak menampilkan postingan berbayar, meski kadang tidak begitu terlihat kalau itu artikel pesanan.

Berbenah dengan Konten 3:1

Kecanduan placement content tampaknya bukan sesuatu yang sehat, ada banyak pemilik blog yang jadi merasa nyaman. Merasa blognya sudah bisa menghasilkan tanpa harus susah payah menulis konten yang dapat mendatangkan banyak pengunjung lagi. Karena ada jenis konten berbayar yang hanya sekedar titip link, tanpa memerlukan visitor ke web yang ditarget dengan link tadi.

Hal itu tampaknya diperhatikan juga oleh orang-orang yang ingin menaikkan kualitas webnya dengan postingan berbayar. Karena ada ukuran-ukuran tertentu yang biasanya jadi pertimbangan. Sehingga muncul istilah konten tiga banding satu (3:1) yang mulai ramai belakangan ini.

Aturan sponsor post dengan model 3:1 mengharuskan blogger menulis 3 postingan original (organik) yang sesuai dengan tema blog setelah menulis satu postingan berbayar. Pada ketiga konten tersebut tidak diperbolehkan menggunakan link (yang membuat konten terlihat sama seperti placement). Ada juga yang memperbolehkan, namun hanya sebatas internal link saja.

Tujuan diberlakukannya konten 3:1 menurut salah satu agency di bidang placement content adalah untuk menjaga kualitas konten yang ada pada blog. Rasio 3:1 ini juga dianggap dapat mengatasi masalah blog terlihat sebagai tempat iklan dan menjaga agar blog tersebut tetap dalam kondisi yang baik.

Jadi Intinya

Selain dijadikan media untuk berbagi informasi, blog juga bisa dijadikan perantara untuk mendapatkan uang. Meski begitu, untuk sampai pada titik tersebut tidaklah mudah. Perlu proses yang cukup panjang. Kalau pun sudah sampai pada masanya, diharapkan blogger bisa tetap konsisten dalam mengisi blognya dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat selain dari placement content yang ada.

Baca juga:  Pegawai Bank: Ini Pasti Daftar Ulang Pake Biaya Sendiri

10 thoughts on “Kebijakan Konten 3:1 dan Placement Content

  1. Nah iyaa. Saya masih lebih suka blog yang banyak organiknya daripada blog bersponsor. Lebih sehat kali yaa…Kayak makanan organik…

    Salam dari Bandung…

  2. Sampai hari ini blogku masih dominan dengan postingan organiknya daripada postingan berbayar. Karena bisa nulis lebih santai dan ngga terbeban. Aku juga ngga pingin blogku jadi kayak etalase. Semoga istiqomah😂.

  3. Sampai saat ini tetap istiqomah ngeblog dijalur yang benar dan tak terjerumus jadi etalase toko.
    Sometimes tergiur juga sih, tetep ambil sponsored post kalau temanya sesuai niche blog.
    Untuk aturan 3:1 itu itungannya gimana sih Mas? misalkan dalam sebulan dpt dua sponsored post berarti organiknya mesti 6 postingan gitu?

    makasih untuk berbagi informasinya 🙂

Berikan Tanggapan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.